<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?>
<rss xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Disqus - Latest Comments for zhellavie</title><link>http://disqus.com/by/zhellavie/</link><description></description><atom:link href="http://disqus.com/zhellavie/comments.rss" rel="self"></atom:link><language>en</language><lastBuildDate>Thu, 17 Jul 2008 14:34:30 -0000</lastBuildDate><item><title>Re: Kesesatan Tasawuf Sufi</title><link>http://ruqyah-online.blogspot.com/2008/01/kesesatan-tasawuf-sufi.html#comment-924082</link><description>&lt;p&gt;Aku dah liat, tp koq aku enggak liat mereka menyembah2 kubur ya? Yg aku liat mereka berkumpul di seputar makam dan pada berdzikir bersama mengingat Allah SWT, mengucap salam dan sholawat untuk Nabi Muhammad SAW, apanya yg sesat...? Anda sudah pernah Haji belum mas..? Kalo sudah berarti anda pasti juga meliat pemandangan di seputar makam Rosululloh SAW, banyak orang muslim berkumpul dan berdo'a disitu, apakah kau pikir mereka itu menyembah kuburnya Nabi..? betapa picik dan sempit pikiranmu itu mas...! Menurutku kamulah manusia sombong yg merasa 'sok benar' , ada sebuah hadis Nabi yg bagus buatmu nih... :&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ahmad dalam musnad-nya; Suatu hari, di depan Rasulullah saw,  Abu Bakar menceritakan adanya seorang sahabat yang amat rajin ibadatnya. Ketekunannya menakjubkan semua orang. Tapi Rasulullah tak memberikan komentar apa-apa. Para sahabat keheranan. Mereka bertanya-tanya, mengapa Nabi tak menyuruh sahabat yang lain agar mengikuti sahabat ahli ibadat itu.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tiba-tiba orang yang dibicarakan itu lewat di hadapan majelis Nabi. Ia kemudian duduk di tempat itu tanpa mengucapkan salam. Abu Bakar berkata kepada Nabi, “Itulah orang yang tadikita bicarakan, ya Rasulallah.” Nabi hanya berkata, “Aku lihat ada bekas sentuhan setan di wajahnya.”&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Nabi lalu mendekati orang itu dan bertanya, “Bukankah kalau kamu datang di satu majelis kamu merasa bahwa kamulah orang yang paling salih di majelis itu?” Sahabat yang ditanya menjawab, “Allahumma, na’am. Ya Allah, memang begitulah aku.” Orang itu lalu pergi meninggalkan majelis Nabi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Setelah itu Rasulullah saw bertanya kepada para sahabat, “Siapa di antara kalian yang mau membunuh orang itu?” “Aku,” jawab Abu Bakar. Abu Bakar lalu pergi tapi tak berapa lama ia kembali lagi, “Ya Rasulallah, bagaimana mungkin aku membunuhnya? Ia sedang ruku’.” Nabi tetap bertanya, “Siapa yang mau membunuh orang itu?”&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Umar bin Khaththab menjawab, “Aku.” Tapi seperti juga Abu Bakar, ia kembali tanpa membunuh orang itu, “Bagaimana mungkin aku bunuh orang yang sedang bersujud dan meratakan dahinya di atas tanah?” Nabi masih bertanya, “Siapa yang akan membunuh orang itu?”&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Imam Ali bangkit, “Aku.” Ia lalu keluar dengan membawa pedang dan kembali dengan pedang yang masih bersih, tidak berlumuran darah, “Ia telah pergi, ya Rasulullah.” Nabi kemudian bersabda, “Sekiranya engkau bunuh dia. Umatku takkan pecah sepeninggalku….”&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dari kisah ini pun kita dapat mengambil hikmah: Selama di tengah-tengah kita masih terdapat orang yang merasa dirinya paling salih, paling berilmu, dan paling benar dalam pendapatnya, pastilah terjadi perpecahan di kalangan kaum muslimin.( Contoh nyata : Abu Muhammad Rafli) Nabi memberikan pelajaran bagi umatnya bahwa perasaan ujub akan amal salih yang dimiliki adalah penyebab perpecahan di tengah orang Islam.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ujub menjadi penghalang naiknya manusia ke tingkat yang lebih tinggi. Penawarnya hanya satu, belajarlah menghinakan diri kita di hadapan Allah SWT....&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;</description><dc:creator xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">zhellavie</dc:creator><pubDate>Thu, 17 Jul 2008 14:34:30 -0000</pubDate></item><item><title>Re: Kesesatan Tasawuf Sufi</title><link>http://ruqyah-online.blogspot.com/2008/01/kesesatan-tasawuf-sufi.html#comment-855372</link><description>&lt;p&gt;YG INGIN SAYA TANYAKAN MANUSIA2 SESAT YANG BERANI BERKOAR2 DAN MENYAMARATAKAN SEMUA THORIQOH ADALAH SESAT ITU DIA BICARA DAN MEMVONIS MENGGUNAKAN MAZHAB SIAPA...???&lt;/p&gt;&lt;p&gt;SEBERAPA DALAM SIH ILMU ANDA TENTANG ISLAM, TENTANG AL-QURAN DAN HADIS SEHINGGA BERANI MENYESAT NYESATKAN TASAWUF..????&lt;/p&gt;&lt;p&gt;APAKAH ANDA MERASA LABIH BAIK, LEBIH TOP ILMUNYA, LEBIH NGERTI AL-QURAN DAN HADIS DARIPADA PARA ULAMA DIBAWAH INI...??? (ULAMA2  YG SAYA SEBUT DALAM BANTAHAN SUFI SESAT)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;ASTAGHFIRULLOHALLADZIIM.....!!!!&lt;/p&gt;&lt;p&gt;PERLU DIKETAHUI BAHWA TIDAK SEMUA THORIQOH MENGGUNAKAN TARI2-AN DAN NYANYI2-AN DALAM DZIKIRNYA, SALAH SATU THORIQOH MUKTABAROK (YG DIAKUI KEABSYAHANNYA DI DUNIA ISLAM) YG ADA DI INDONESIA, YAITU THORIQOH QODIRYAH WANAQSYABANDY HANYA MENGUCAKAN KALIMAH :&lt;/p&gt;&lt;p&gt;"LAA ILAHA ILLA ALLOH" &amp;amp; KALIMAH : "ALLOH" DALAM DZIKIRNYA DAN KEMUDIAN DIAKHIRI DENGAN KALIMAT : "MUHAMMADURROSULULLOH" ITUPUN SEMUA DIUCAPKAN SEMBARI DUDUK TIDAK SAMBIL MENARI SEPERTI SANGKAAAN ANDA...!!!&lt;/p&gt;&lt;p&gt;SO... APAKAH ANDA MASIH BERANI MEMVONIS ORANG YANG MENGUCAPKAN :&lt;/p&gt;&lt;p&gt;"LAA ILAHA ILLA ALLOH" , "ALLOH" &amp;amp; "MUHAMMADURROSULULLOH" ADALAH SESAT...????&lt;/p&gt;&lt;p&gt;MAKA DEMI ALLOH YG JIWAKU ADA DITANGAN-NYA, ANDALAH YG TERSESAT...!!!&lt;br&gt;&lt;/p&gt;</description><dc:creator xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">zhellavie</dc:creator><pubDate>Thu, 10 Jul 2008 11:49:12 -0000</pubDate></item><item><title>Re: Kesesatan Tasawuf Sufi</title><link>http://ruqyah-online.blogspot.com/2008/01/kesesatan-tasawuf-sufi.html#comment-855241</link><description>&lt;p&gt;ARTI KATA&lt;br&gt;Tasawuf adalah ilmu untuk mengetahui bagaimana cara menyucikan jiwa, menjernihan akhlaq, membangun lahir dan batin, untuk memporoleh kebahagian yang abadi bersama Alloh SWT, sedangkan Sufi adalah sebutan bagi orang2 yang mempelajari Tasawuf.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sedangkan Thoriqoh  adalah pelbagai jalan / metode / system yang ada di dalam Tasawuf tersebut. Dengan demikian Thoriqoh  dalam Tasawuf Islam berarti salah satu metode pemberian bimbingan spiritual kepada individu dalam mengarahkan kehidupannya menuju kedekatan diri kepada Alloh SWT berdasarkan Al-Quran dan Hadis Nabi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;HAKIKAT  TASAWUF&lt;br&gt;Seringkali tasawuf dituduh sebagai ajaran sesat. Tasawuf dipersepsikan sebagai ajaran yang lahir dari rahim non Islam. Ia adalah ritual keagamaan yang diambil dari tradisi Kristen, Hindu dan Brahmana. Bahkan gerakan sufi, diidentikan dengan kemalasan bekerja dan berfikir. Betulkah?&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Untuk menilai apakah satu ajaran tidak Islami dan dianggap sebagai terkena infiltrasi budaya asing tidak cukup hanya karena ada kesamaan istilah atau ditemukannya beberapa kemiripan dalam laku ritual dengan tradisi agama lain atau karena ajaran itu muncul belakangan, paska Nabi dan para shahabat. Perlu analisis yang lebih sabar, mendalam, dan objektif. Tidak bisa hanya dinilai dari kulitnya saja, tapi harus masuk ke substansi materi dan motif awalnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tasawuf pada mulanya dimaksudkan sebagai tarbiyah akhlak-ruhani : mengamalkan akhlak mulia, dan meninggalkan setiap perilaku tercela. Atau sederhananya, Tasawuf hanyalah sebuah istilah untuk menamai ilmu yang intinya mengajak membersihkan jiwa dan menghaluskan budi pekerti, sesuai dengan ajaran Al-Quran dan hadis nabi, Demikian Imam Junaid, Syeikh Zakaria al-Anshari mendefiniskan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Asal mula kata tasawuf / sufi sendiri ulama berbeda pendapat. Tapi perdebatan asal-usul kata itu tidaklah terlalu penting. Adapun penolakan sebagian orang atas tasawuf karena mereka menganggap “kata Sufi” / “kata Tasawuf” tidak ada dalam al-Qur'an, dan tidak dikenal pada zaman Nabi, Shahabat dan tabi'in. Tapi hal itu tidaklah otomatis menjadikan tasawuf sebagai ajaran terlarang! Kalau mau jujur sebetulnya banyak sekali istilah-istilah baru (seperti nahwu, fikih, dan ushul fikih) yang lahir setelah periode Shahabat, tapi kenapa orang2 wahabi/salafy kita tidak alergi, bahkan menggunakannya dengan penuh kesadaran? Aneh kan?&lt;/p&gt;&lt;p&gt;SEJARAH TASAWUF&lt;br&gt;Kenapa kalimat Tasawuf baru muncul paska era Shahabat dan Tabi'in? Kenapa tidak muncul pada masa Nabi? Jawabnya, saat itu kondisinya tidak membutuhkan Tasawuf. Perilaku umat masih sangat stabil. Dengan kata lain mereka saat itu sudah mengamalkan ilmu-ilmu Tasawuf, mereka sudah Sufi. Sisi akal, jasmani dan ruhani yang menjadi garapan Islam masih dijalankan secara seimbang. Cara pandang hidupnya jauh dari budaya pragmatisme, materialisme, hedonisme maupun kapitalisme.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kata-kata Tasawuf sebagai nomenklatur sebuah perlawanan terhadap budaya materialisme belum ada, bahkan tidak dibutuhkan. Karena pada saat itu Nabi, para Shahabat dan para Tabi'in pada hakikatnya sudah bertasawuf, mereka sudah Sufi : sebuah perilaku yang tidak pernah mengagungkan kehidupan dunia, tapi juga tidak meremehkannya, Selalu ingat pada Allah Swt sebagai sang Khaliq.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sampai dengan penjelasan ini, SIAPA BERANI MEMBANTAH BAHWA NABI MUHAMMAD SAW, PARA SAHABAT DAN PARA TABI'IN BUKAN ORANG2 YANG SUFI....??!!!!&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ketika kekuasaan Islam makin meluas. Ketika kehidupan ekonomi dan sosial makin mapan, mulailah orang-orang lalai pada sisi ruhani. Budaya hedonisme pun menjadi fenomena umum. Saat itulah timbul gerakan tasawuf (sekitar abad 2 Hijriah). Gerakan yang bertujuan untuk mengingatkan kembali tentang hakikat hidup.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;PENDAPAT  SEMUA ULAMA TENTANG TASAWUF :&lt;/p&gt;&lt;p&gt;EMPAT ORANG IMAM MAZHAB SUNNI, semuanya mempunyai seorang syaikh thariqah. Melalui syaikh itulah mereka mempelajari Islam dalam sisi esoterisnya yang indah dan agung. Mereka semua menyadari bahwa ilmu syariat harus didukung oleh ilmu tasawuf sehingga akan tercapailah pengetahuan sejati mengenai hakikat ibadah yang sebenarnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;IMAM ABU HANIFAH&lt;br&gt;(Nu’man bin Tsabit - Ulama besar pendiri mazhab Hanafi) adalah murid dari Ahli Silsilah Thariqat Naqsyabandiyah yaitu Imam Jafar as Shadiq ra . Berkaitan dengan hal ini, Jalaluddin as Suyuthi didalam kitab Durr al Mantsur, meriwayatkan bahwa Imam Abu Hanifah (85 H.-150 H) berkata, “Jika tidak karena dua tahun, Nu’man telah celaka. Karena dua tahun saya bersama Sayyidina Imam Jafar as Shadiq, maka saya mendapatkan ilmu spiritual yang membuat saya lebih mengetahui jalan yang benar”.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;IMAM MALIKI &lt;br&gt;(Malik bin Anas - Ulama besar pendiri mazhab Maliki) yang juga murid  Imam Jafar as Shadiq ra, mengungkapkan pernyataannya yang mendukung terhadap ilmu tasawuf sebagai berikut :&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“man tasawaffa wa lam yatafaqa faqad tazandaqa, wa man&lt;br&gt;tafaqaha wa lam yatasawaf faqad tafasaq, wa man&lt;br&gt;tasawaffa wa taraqaha faqad tahaqaq”.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Yang artinya : “Barangsiapa mempelajari/mengamalkan tasawuf tanpa fiqih maka dia telah zindik, dan barangsiapa mempelajari fiqih tanpa tasawuf dia tersesat, dan siapa yang mempelari tasawuf dengan disertai fiqih dia meraih Kebenaran dan Realitas dalam Islam.” (’Ali al-Adawi dalam kitab Ulama fiqih, vol. 2, hal. 195 yang meriwayatkan dari Imam Abul Hasan).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;IMAM SYAFI’I (Muhammad bin Idris, 150-205 H) &lt;br&gt;Ulama besar pendiri mazhab Syafi’i) berkata, “Saya berkumpul bersama orang-orang sufi dan menerima 3 ilmu:&lt;/p&gt;&lt;p&gt;1. Mereka mengajariku bagaimana berbicara&lt;br&gt;2. Mereka mengajariku bagaimana memperlakukan orang lain dengan kasih sayang dan kelembutan hati&lt;br&gt;3. Mereka membimbingku ke dalam jalan tasawuf.”&lt;br&gt;(Riwayat dari kitab Kasyf al-Khafa dan Muzid al Albas, Imam ‘Ajluni, vol. 1, hal. 341)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;IMAM AHMAD BIN HANBAL (164-241 H  &lt;br&gt;Ulama besar pendiri mazhab Hanbali berkata, “Anakku, kamu harus duduk bersama orang-orang sufi, karena mereka adalah mata air ilmu dan mereka selalu mengingat Allah dalam hati mereka. Mereka adalah orang-orang zuhud yang memiliki kekuatan spiritual yang tertinggi. Aku tidak melihat orang yang lebih baik dari mereka” (Ghiza al Albab, vol. 1, hal. 120 ; Tanwir al Qulub, hal. 405, Syaikh Amin al Kurdi)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;SYAIKH FAKHRUDDIN AR RAZI (544-606 H &lt;br&gt;Ulama besar dan ahli hadits) berkata, “Jalan para sufi adalah mencari ilmu untuk memutuskan hati mereka dari kehidupan dunia dan menjaga diri agar selalu sibuk dalam pikiran dan hati mereka dengan mengingat Allah pada seluruh tindakan dan perilaku .” (I’tiqad al Furaq al Musliman, hal. 72, 73)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;IMAM AL MUHASIBI (d. 243 H./857 M)&lt;br&gt;Imam al-Muhasibi meriwayatkan dari Rasul, “Umatku akan terpecah menjadi 73 golongan dan hanya satu yang akan menjadi kelompok yang selamat” . Dan Allah yang lebih mengetahui bahwa itu adalah Golongan orang TASAWUF. Dia menjelaskan dengan mendalam dalam Kitab al- Wasiya p. 27-32.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;IMAM AL QUSHAYRI (d. 465 H./1072 M) &lt;br&gt;Imam al-Qushayri tentang Tasawuf: “Allah membuat golongan ini yang terbaik dari wali-wali- Nya dan Dia mengangkat mereka di atas seluruh hamba-hamba-Nya sesudah para Rasul dan Nabi, dan Dia memberi hati mereka rahasia Kehadiran Ilahi-Nya dan Dia memilih mereka diantara umat-Nya yang menerima cahaya-Nya. Mereka adalah sarana kemanusiaan, Mereka menyucikan diri dari segala hubungan dengan dunia dan Dia mengangkat mereka ke kedudukan tertinggi dalam penampakan (kasyaf). Dan Dia membuka kepada mereka Kenyataan akan Keesaan-Nya. Dia membuat mereka untuk melihat kehendak-Nya mengendalikan diri mereka. Dia membuat mereka bersinar dalam wujud-Nya dan menampakkan mereka sebagai cahaya dan cahaya-Nya .” [ar-Risalat al-Qushayriyya, p. 2]&lt;/p&gt;&lt;p&gt;IMAM  AL- GHAZALI (450-505 H./1058-1111 M) &lt;br&gt;Imam Ghazali, hujjat ul-Islam, tentang tasauf: “Saya tahu dengan benar bahwa para Sufi adalah para pencari jalan Allah, dan bahwa mereka melakukan yang terbaik, dan jalan mereka adalah jalan terbaik, dan akhlak mereka paling suci. Mereka membersihkan hati mereka dari selain Allah dan mereka menjadikan mereka sebagai jalan bagi sungai untuk mengalirnya kehadiran Ilahi [al-Munqidh min ad-dalal, p. 131].&lt;/p&gt;&lt;p&gt;IMAM  NAWAWI (620-676 H./1223-1278 M)&lt;br&gt; Dalam suratnya al-Maqasid: “Ciri jalan sufi ada 5: &lt;br&gt;menjaga kehadiran Allah dalam hati pada waktu ramai dan sendiri &lt;br&gt;mengikuti Sunah Rasul dengan perbuatan dan kata &lt;br&gt;menghindari ketergantungan kepada orang lain &lt;br&gt;bersyukur pada pemberian Allah meski sedikit &lt;br&gt;selalu merujuk masalah kepada Allah swt [Maqasid at-Tawhid, p. 20]&lt;/p&gt;&lt;p&gt;IBNU KHALDUN(733-808 H &lt;br&gt;(Ulama besar dan filosof Islam) berkata, “Jalan sufi adalah jalan salaf, yakni jalannya para ulama terdahulu di antara para sahabat Rasulullah Saww, tabi’in, dan tabi’it-tabi’in. Asasnya adalah beribadah kepada Allah dan meninggalkan perhiasan serta kesenangan dunia.” (Muqadimah ibn Khaldun, hal. 328)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;IMAM JALALUDDIN AS SUYUTI&lt;br&gt;(Ulama besar ahli tafsir Qur’an dan hadits) didalam kitab Ta’yad al haqiqat al ‘Aliyyah, hal. 57 berkata, “Tasawuf yang dianut oleh ahlinya adalah ilmu yang paling baik dan terpuji. Ilmu ini menjelaskan bagaimana mengikuti Sunah Nabi Saww dan meninggalkan bid’ah.”&lt;/p&gt;&lt;p&gt;TAJUDDIN AS SUBKI &lt;br&gt;Mu’eed an-Na’eem, p. 190, dalam tasauf: “Semoga Allah memuji mereka dan memberi salam kepada mereka dan menjadikan kita bersama mereka di dalam sorga. Banyak hal yang telah dikatakan tentang mereka dan terlalu banyak orang-orang bodoh yang mengatakan hal-hal yang tidak berhubungan dengan mereka. Dan yang benar adalah bahwa mereka meninggalkan dunia dan menyibukkan diri dengan ibadah” &lt;br&gt;Dia berkata: “Mereka dalah manusia-manusia yang dekat dengan Allah yang doa dan shalatnya diterima Allah, dan melalui mereka Allah membantu manusia.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;IBNU ‘ABIDIN &lt;br&gt;Ulama besar, Ibn ‘Abidin dalam Rasa’il Ibn cAbidin (p. 172-173) menyatakan: ” Para pencari jalan ini tidak mendengar kecuali Kehadiran Ilahi dan mereka tidak mencintai selain Dia. Jika mereka mengingat Dia mereka menangis. Jika mereka memikirkan Dia mereka bahagia. Jika mereka menemukan Dia mereka sadar. Jika mereka melihat Dia mereka akan tenang. Jika mereka berjalan dalan Kehadiran Ilahi, mereka menjadi lembut. Mereka mabuk dengan Rahmat-Nya. Semoga Allah merahmati mereka”. [Majallat al-Muslim, 6th ed., 1378 H, p. 24].&lt;/p&gt;&lt;p&gt;SHAIKH RASHAD RIDA&lt;br&gt; Dia berkata,”tasauf adalah salah satu pilar dari pilar-pilar agama. Tujuannya adalah untuk membersihkan diri danmempertanggung jawabkan perilaku sehari-hari dan untuk menaikan manusia menuju maqam spiritual yang tinggi” [Majallat al-Manar, 1st year, p. 726].&lt;/p&gt;&lt;p&gt;MAULANA ABUL HASAN ALI AN-NADWI &lt;br&gt;Maulana Abul Hasan ‘Ali an-Nadwi anggota the Islamic-Arabic Society of India and Muslim countries. Dalam, Muslims in India, , p. 140-146, “Para sufi ini memberi inisiasi (baiat) pada manusia ke dalam keesaan Allah dan keikhlasan dalam mengikuti Sunah Nabi dan dalam menyesali kesalahan dan dalam menghindari setiap ma’siat kepada Allah SWT. Petunjuk mereka merangsang orang-orang untuk berpindah ke jalan kecintaan penuh kepada Allah”&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Di Calcutta, India, lebih dari 100.000 orang mengambil inisiasi (baiat) ke dalam Tasauf”&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Kita bersyukur atas pengaruh orang-orang sufi, ribuan dan ratusan ribu orang di India menemukan Tuham merka dan meraih kondisi kesempurnaan melalui Islam”&lt;/p&gt;&lt;p&gt;ABU ‘ALA AL MAUDUDI&lt;br&gt; Dalam Mabadi’ al-Islam (p. 17), “Tasauf adalah kenyataan yang tandanya adalah cinta kepada Allah dan Rasul saw, di mana sesorang meniadakan diri mereka karena tujuan mereka (Cinta), dan seseorang meniadakan dari segala sesuatu selain cinta Allah dan Rasul” “Tasauf mencari ketulusan hati, menyucikan niat dan kebenaran untuk taat dalam seluruh perbuatannya.”&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Bahkan IBNU TAIMIYYAH (661-728 H), salah seorang ulama yang dikenal sulit menerima kebenaran tasawuf dan dedengkotnya fatwa bid’ah, yang merupakan penentang tasawuf nomor wahidpun pada AKHIRNYA beliau mengakui bahwa tasawuf adalah jalan kebenaran, sehingga beliaupun mengambil bai’at dan menjadi pengikut thariqah Qadiriyyah. Berikut ini perkataan Ibnu Taimiyyah didalam kitab Majmu al Fatawa Ibn Taimiyyah, terbitan Dar ar Rahmat, Kairo, Vol. 11, hal. 497, dalam bab. Tasawuf : “Kalian harus mengetahui bahwa para syaikh yang terbimbing harus diambil dan diikuti sebagai petunjuk dan teladan dalam agama, karena mereka mengikuti jejak Para Nabi dan Rasul. Thariqah para syaikh itu adalah untuk menyeru manusia kepada kehadiran dalam Hadhirat Allah dan ketaatan kepada Nabi.” Kemudian dalam kitab yang sama hal. 499, beliau berkata, “Para syaikh harus kita ikuti sebagai pembimbing, mereka adalah teladan kita dan kita harus mengikuti mereka. Karena ketika kita berhaji, kita memerlukan petunjuk (dalal) untuk mencapai Ka’ bah, para syaikh ini adalah petunjuk kita (dalal) menuju Allah dan Nabi kita.” Di antara para syaikh sufi yang beliau sebutkan didalam kitabnya adalah, Syaikh Ibrahim ibn Adham ra, guru kami Syaikh Ma’ruf al Karkhi ra, Syaikh Hasan al Basri ra, Sayyidah Rabi’ah al Adawiyyah ra, guru kami Syaikh Abul Qasim Junaid ibn Muhammad al Baghdadi ra, guru kami Syaikh Abdul Qadir al Jailani, Syaikh Ahmad ar Rifa’i ra, dll. Dalam satu kesempatan, Ibnu taymiyah ketika ditanya tentang kasus yang menimpa Bayazid Bistami dan Al-Hallaj beliau mengatakan bahwa keduanya tidak sesat hanya saja sangat disayangkan mengapa ungkapan-ungkapan mereka saat ekstase (Jadhab) itu terpublikasikan. Adapun kemudian pandangan ibnu taymiyah dipelintir untuk kepentingan gerakan salafi/wahabi itu persoalan lain. Perlu dikaji lebih dalam lagi jika Ibnu Taymiyah dikaitkan dengan pembersihan secara kasar terhadap praktek tawashul, kultus, taklid, ziarah yang berkembang dalam dunia tasawuf yang dilakukan oleh gerakan wahabi./salafi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Didalam kitab “Syarh al Aqidah al Asfahaniyyah” hal. 128. Ibnu Taimiyyah berkata, “Kita (saat ini) tidak mempunyai seorang Imam yang setara dengan Malik, al Auza’i, at Tsauri, Abu Hanifah, as Syafi’i, Ahmad bin Hanbal, Fudhail bin Iyyadh, Ma’ruf al Karkhi, dan orang-orang yang sama dengan mereka.” Kemudian sejalan dengan gurunya, Ibnu Qayyim al Jauziyyah didalam kitab “Ar Ruh” telah mengakui dan mengambil hadits dan riwayat-riwayat dari para pemuka sufi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dr. Yusuf Qardhawi, guru besar Universitas al Azhar, yang merupakan salah seorang ulama Islam terkemuka abad ini didalam kumpulan fatwanya mengatakan, “Arti tasawuf dalam agama ialah memperdalam ke arah bagian ruhaniah, ubudiyyah, dan perhatiannya tercurah seputar permasalahan itu.” Beliau juga berkata, “Mereka para tokoh sufi sangat berhati-hati dalam meniti jalan di atas garis yang telah ditetapkan oleh Al-Qur,an dan As-Sunnah. Bersih dari berbagai pikiran dan praktek yang menyimpang, baik dalam ibadat atau pikirannya. Banyak orang yang masuk Islam karena pengaruh mereka, banyak orang yang durhaka dan lalim kembali bertobat karena jasa mereka. Dan tidak sedikit yang mewariskan pada dunia Islam, yang berupa kekayaan besar dari peradaban dan ilmu, terutama di bidang marifat, akhlak dan pengalaman-pengalaman di alam ruhani, semua itu tidak dapat diingkari.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Syaikh TAQIYUDDIN AN-NABHANY, &lt;br&gt;pendiri Hizbut Tahrir-nya adalah seorang sufi, beliau mempunyai buku berjudul: Jâmi' Karâmât al-Auliyâ' (beberapa karamah para kekasih Allah). Kemudian Syaikh Muhammad Ilyas, pendiri Jamaah Tabligh, pernah baiat kepada tariqah al-Jasytiyah, sebagai gurunya ketika itu adalah Syaikh Ahmad Al-Janjûhiy. Setelah itu memperbaharui baiatnya kepada Syaikh Ahmad Al-Sahârnafûry. Tidak ketinggalan pendiri gerakan dakwah Ikhwanul Muslimin, Imam Hasan Al-Banna. Dalam jenjang ibtidaiyah (SD) beliau bergabung dengan tarekat sufi Jamaah Ikhwanul Hashafiyah.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;YG INGIN SAYA TANYAKAN MANUSIA2 SESAT YANG BERANI BERKOAR2 DAN MENYAMARATAKAN SEMUA THORIQOH ADALAH SESAT ITU DIA BICARA DAN MEMVONIS MENGGUNAKAN MAZHAB SIAPA...???&lt;/p&gt;&lt;p&gt;SEBERAPA DALAM SIH ILMU ANDA TENTANG ISLAM, TENTANG AL-QURAN DAN HADIS SEHINGGA BERANI MENYESAT NYESATKAN TASAWUF..????&lt;/p&gt;&lt;p&gt;APAKAH ANDA MERASA LABIH BAIK, LEBIH TOP ILMUNYA, LEBIH NGERTI AL-QURAN DAN HADIS DARIPADA PARA ULAMA DIBAWAH INI...??? (ULAMA2 YG SAYA SEBUT DALAM BANTAHAN SUFI SESAT)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;ASTAGHFIRULLOHALLADZIIM.....!!!!&lt;/p&gt;&lt;p&gt;PERLU DIKETAHUI BAHWA TIDAK SEMUA THORIQOH MENGGUNAKAN TARI2-AN DAN NYANYI2-AN DALAM DZIKIRNYA, SALAH SATU THORIQOH MUKTABAROK (YG DIAKUI KEABSYAHANNYA DI DUNIA ISLAM) YG ADA DI INDONESIA, YAITU THORIQOH QODIRYAH WANAQSYABANDY HANYA MENGUCAKAN KALIMAH :&lt;/p&gt;&lt;p&gt;"LAA ILAHA ILLA ALLOH" &amp;amp; KALIMAH : "ALLOH" DALAM DZIKIRNYA DAN KEMUDIAN DIAKHIRI DENGAN KALIMAT : "MUHAMMADURROSULULLOH" ITUPUN SEMUA DIUCAPKAN SEMBARI DUDUK TIDAK SAMBIL MENARI SEPERTI SANGKAAAN ANDA...!!!&lt;/p&gt;&lt;p&gt;SO... APAKAH ANDA MASIH BERANI MEMVONIS ORANG YANG MENGUCAPKAN :&lt;/p&gt;&lt;p&gt;"LAA ILAHA ILLA ALLOH" , "ALLOH" &amp;amp; "MUHAMMADURROSULULLOH" ADALAH SESAT...????&lt;/p&gt;&lt;p&gt;MAKA DEMI ALLOH YG JIWAKU ADA DITANGAN-NYA, ANDALAH YG TERSESAT...!!!&lt;br&gt;&lt;/p&gt;</description><dc:creator xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">zhellavie</dc:creator><pubDate>Thu, 10 Jul 2008 11:38:36 -0000</pubDate></item><item><title>Re: Kesesatan Tasawuf Sufi</title><link>http://ruqyah-online.blogspot.com/2008/01/kesesatan-tasawuf-sufi.html#comment-854956</link><description>&lt;p&gt;TUDUHAN ORANG2 KAFIR TERHADAP ULAMA SUFI&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Banyak kalangan yang terus menerus menuduh kaum Sufi terutama para Ulamanya, melalui berbagai rekayasa dan kalimat-kalimat, wacana yang disandarkan kepada para Ulama tersebut, sehingga mengesankan betapa para Ulama Sufi telah sesat. Rekayasa yang penuh dengan kezaliman ini telah disebarkan oleh musuh Islam, sekaligus mereka yang anti tasawuf.&lt;br&gt;Di bawah ini ilustrasi yang cukup otentik atas rekayasa tersebut:&lt;br&gt;Dalam Thobaqotnya, Ibul Farra’ mengutip dari Abu Bakr al-Maruzy, bahwa mereka (para perekayasa) telah banyak meriwayatkan berbagai masalah, kemudian masalah-masalah itu diidentifikasikan sebagai pandangan Ahmad bin Hambal. Dalam masalah ini mereka menuturkan:&lt;br&gt;“Dua orang yang saleh telah diuji melalui lingkungan sahabatnya yang buruk. Ja’far as-Shodiq dan Ahmad bin Hambal. Adapun Ja’far ash-Shodiq, karena banyak wacana yang disandarkan padanya, yang telah dikodifikasi dalam fiqih Syia’ah Imamiyah, bahwa pandangan itu adalah ucapan Ja’far ash-Shodiq, padahal beliau sama sekali tidak pernah mengatakannya. Sedangkan terhadap Imam Ahmad bin Hambal, sejumlah Ulama Hambali mengidentikkan pandangan mereka sebagai pandangan Imam Ahmad padahal sama sekali bukan.”&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Suatu hari Imam Al-Faqih Ibnu Hajar al-Haitsamy ra, ditanya mengenai akidah pengikut mazhab Hambal, “Apakah ada yang tesembunyi dibalik kemuliaan ilmu anda, apakah akidah kaum hambali itu seperti akidah Imam Ahmad bin Hambal?”&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ibnu Hajar menjawab, “Akidah imam Sunnah Ahmad bin Hambal ra, — dan semoga Allah meridloi dan menjadikan syurga ma’rifat sebagai tempatnya yang luhur, dan semoga berkahnya melimpah kepada kita, semoga Allah menempatkan di syurga firdausnya yang tinggi di SisiNya – adalah akidah yang relevan dengan Ahlussunnah wal-jamaah, terutama dalam penyucian Allah Ta’ala, — jauh dari apa yang dikatakan oleh kaum zalim, dan para penentangnya—jauh dari arah dan fisik dan sebagainya, bahkan jauh dari segala sifat yang kurang dari keparipurnaan absolut. Apa yang dipopulerkan secara dusta dan bodoh yang dikaitkan pada Imam Ahmad yang agung ini, bahwa Allah itu berarah dan dan berfisik adalah kedustaan dan kebohongan. Tentu bagi orang yang mengaitkan pada Imam Ahmad harus dilaknat. (Lihat al-Fatawa al-Haditsiyah, Ibnu Hajar al-Makky hal. 148)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Rekayasa juga dialamatkan pada Imam Ali bin Abi Thalib Karromallahu Wajhah, dimana Kitab Nahjul Balaghah dan yang lain yang selama ini tersebar, katanya dari ucapan Imam Ali. Adz -Dzahaby menyebutkan dalam biografi Ali bin al-Husain asy-Sayrif al-Murtadlo, sesungguhya: (adalah beliau yang meragukan kitab Nahjul Balaghoh dan orang yang menelaahnya harus dipastikan atas kebohongannya bahwa hal itu dari Amirul Mukminn Ali bin Abi Thalib. Di dalamnya menjadi sebab kontradiksi dan permusuhan terhadap dua pemuka sahabat Nabi Abu Bakr dan Umar bin Khoththob, ra, dan di dalam kitab itu penuh dengan antagonisma dan wacana dimana bagi orang yang sangat mengerti nafas sahabat Quraisy dan sahabat lainnya, pasti akan mengatakan bahwa kitab itu lebih banyak batilnya.” (Mizanul I’tidal, adz-Dzahaby, juz 3, hal 124)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ulama Sufi yang dituding melalui rekayasa, antara lain Imam Asy-Sya’roni, khususnya dalam Thobaqotul Kubro, dan hal demikian juga diungkapkan dalam Lathoful Minan wal-Akhlaq, “Diantara anugerah Allah kepada diri saya adalah kesabaran saya atas cobaan orang-orang dengki pada saya, lalu mereka membuat rekayasa seakan-akan saya berkata suatu perkara yang bertentangan dengan syariat. Lalu mereka berfatwa, dengan kedustaan dan kebohongan sampai saya harus dilaporkan ke raja.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Perlu anda ketahui saudaraku, cobaan pertama yang menimpaku ketika di Mesir adalah rekayasa kebohogan itu.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sejarawan besar Abdul Hayy bin Imad al-Hambaly dalam kitabnya Syadzarotuz Dzahab, menghenai biografi asy-Sya’rony ini, “Dia adalah Ulama yang mendapat kedengkian dari berbagai kalangan, lalu sejumlah wacana dikait-kaitkan pada beliau dengan dusta, seakan-akan beliau menentang syariat, bahkan dengan akidah yang menyimpang, serta masalah yang kontra dengan Ijma’ Ulama. Sampai akhirnya asy-Sya’roni dicaci maki, dihina, dan dilempari berbagai tuduhan. Namun Allah justru menghina mereka itu semua, dan terbukti bahwa Asy-Sya’rony bebas dari tuduhan, karena asy-Sya’roni sangat ketat pada Sunnah, wara’, bahkan ia sangat sederhana termasuk pakaiannya, senantiasa prihatin, dan waktunya dihabiskan untuk ibadah, menulis kitab, suluk dan meraih manfaat. Siang malam zawiyah sufiya sangat ramai, dan setiap malam jum’at senantiasa menghidupkam malam itu dengan penuh sholawat Nabi saw, dan terus menerus dilakukan, demi mengagungkan junjungan jiwa, hingga akhir hayatnya beliau.”&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Imam al-Ghazaly, telah dilempar rekayasa oleh lawan dan musuhnya dengan berbagai naskah yang disandarkan sebagai karyanya. Al-Qodly ‘Iyadh akhirnya membakar naskah tersebut. Asy-Sya’rani mengatakan: “Hal yang direkayasakan pada Imam Hujjatul Islam al-Ghazaly dan disebarluaskan adalah ungkapan mereka bahwa al-Ghazali berkata: (Sesungguhnya Allah Ta’ala mempunyai hamba-hamba, manakala hamba-hamba ini meminta kepada Allah agar kiamat tidak terjadi, Allah tidak bakal menciptakan kiamat. Sebaliknya Allah juga punya hamba-hamba jika para hamba ini memohon agar kiamat terjadi saat ini, Allah akan mengkiamatkannya.”&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Banyak sejumlah Kitab yang dikait-kaitkan oleh nama besar Al-Ghazaly yang ditulis oleh kaum antagonis. Diantaranya sejumlah kitab yang kontra terhadap Ahli Sunnah wal-jamaah, lalu kitab itu ditelaah oleh Syeikh Badruddin Ibnu Jama’ah, kemudian beliau berkomentar, “Demi Allah, ini dusta, dan sangat keterlaluan mengaitkan kitab ini pada Hujjatul Islam.”&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Syeikhul Akbar, Muhyiddin Ibu Araby sebagaimana disbeut Asy-Sya’rany, pernah dituding melalui rekayasa musuh-musuh Islam. Padahal Ibnu Araby sangat tegas berpijak pada Al-Qur’an dan Sunnah, hingga beliau berkata, “Setiap perkara yang terlempar dari timbangan syariat sedikit saja dari tangannya, ia bakal hancur…” sampai kata-katanya, “Dan inilah akidah Jama’ah sampai kiamat…”&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sedangkan sejumlah wacana yang tidak bisa difahami khayalak, semata-sama karena tingginya tahapannya. Sementara seluruh kata-katanya yang kontra terhadap syariat, dan Jumhur, sesungguhnya merupakan kata-kata rekayasa yang diidentikkan sebagai kata-katanya oleh lawan-lawannya, sebagaimana dikabarkan padaku oleh Syeikh Abnu Thohir al-Maghriby yang tinggal di Makkah al-Mukarromah. Kemudian beliau mengeluarkan manuskrip Al-Futuhat al-Makkiyyah tulisan Syeikh di kota Quniah, untuk dibandingkan dengan naskah yang pernah saya kaji. Justru saya tidak melihat sama sekali hal-hal yang semula saya harus mauquf (diam) dan saya buang ketika saya membuat ikhtisar (ringkasan) al-Futuhat. Lalu aku jadi faham, bahwa mereka orang-orang dengki itu telah merekayasa tudingan keji terhadap syeikh dengan memasukkannya dalam kitabnya, seperti yang dilakukan terhadap diri saya. Itulah peristiwa yang pernah saya saksikan sendiri dalam zaman saya. Semoga Allah mengampuni kita dan mereka semua.”&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Diantara kata-kata yang diidentikkan pada Ibnu Araby dari musuh-musuhnya yang menyelipkannya dalam Al-Futuhat adalah bahwa beliau berkata, “Ahli neraka itu sangat menikmati masuk neraka itu sendiri, dan manakala mereka keluar dari neraka, justru mereka merasa tersiksa.”&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Asy-Sya’rani berkomentar, “Jika ditemukan hal seperti itu dalam salah satu kitabnya, maka jelas ucapan itu adalah rekayasa musuh. Sebab berkali-kali saya telaah kitab Al-Futuhatul Makkiyyah secara keseluruhan, semuanya menegaskan bahwa Ibnu Araby menegaskan adanya siksa pada ahli neraka.”&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Karena itu menelaah karyanya harus hati-hati, sebab banyak yang diselipi kata-kata musuh untuk menghancurkan Ibnu Araby dalam kitab-kitabnya, khususnya kitab Futuhat dan Fushus.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Lebih-lebih kalau kita baca karya para orientalis yang menganalisa Ibnu Araby dan karya-karyanya, mereka lebih banyak salah faham atas wacananya. Karena itu untuk menelaah kitabnya, usahakan dari karya orisinal yang berbahasa Arab.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Diantara rekayasa yang pernah dilemparkan, antara lain tehadap Imam Syeikh Ibrahim ad-Dasuqy. Ra, melalui kata-katanya, “Tuhanku telah mengizinkan diriku untuk berkata dan aku mengatakan, Akulah Allah. Maka Allah berkata kepadaku, “Katakan: Akulah Allah dan aku tak peduli…”&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ini sungguh kata-kata yang diselipkan oleh musuh Sufi besar ini, seakan-akan kata-kata beilau.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Rabiah Adawiyah, wali perempuan yang begitu hebat juga sempat dituding melalui rekayasa kata-kata yang diidentifikasikan padanya, tentang Ka’bah, “Inilah Berhala yang disembah di muka bumi”.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Bahkan Ibnu Taymiyah malah menolak jika kata-kata itu dari Rabiah Adawiyah. “Apa yang disebut dan dikaitkan pada Rabiah mengenai ucapannya, Ini adalah Berhala yang disembah di muka bumi, adalah ungkapan dusta dari para pendengkinya terhadap wanita yang taqwa ini. Seandainya saja ada orang bicara seperti itu pasti dia kafir, jika bertobat diterima, jika tidak, bisa dihukum bunuh. Jelas kalimat yang dikaitkan padanya adalah kebohongan. sebab Baitullah tidak pernah disembah umat Islam, tetapi ummat menyembah Tuhannya Baitullah melalui Thawaf dan sholat kepadaNya.”&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kita semua bisa menyimpulkan kenapa selalu ada rekayasa pendustaan terhadap Islam melalui wacana yang dikaitkan tokoh-tokoh Islam, apalagi berhubungan dengan dunia sufi yang merupakan Ruh Islam...!!!&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Karena jika Ruhnya dimatikan, bangunan Islam akan roboh. Mereka musuh-musuh Islam itu hendak mematikan cahaya Allah sebagaimana disebut oleh Allah, “Mereka hendak mematikan Nur Allah melalui ucapan mereka, padahal Allah justru menyempurnakan cahayaNya, walaupun hal itu dibenci oleh orang-orang kafir.”&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;</description><dc:creator xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">zhellavie</dc:creator><pubDate>Thu, 10 Jul 2008 11:10:00 -0000</pubDate></item><item><title>Re: Kesesatan Tasawuf Sufi</title><link>http://ruqyah-online.blogspot.com/2008/01/kesesatan-tasawuf-sufi.html#comment-822906</link><description>&lt;p&gt;BANTAHAN TERHADAP TUDINGAN TASAWUF / SUFI ADALAH SESAT&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Hakikat Tasawuf Seringkali tasawuf dituduh sebagai ajaran sesat. Tasawuf dipersepsikan sebagai ajaran yang lahir dari rahim non Islam. Ia adalah ritual keagamaan yang diambil dari tradisi Kristen, Hindu dan Brahmana. Bahkan gerakan sufi, diidentikan dengan kemalasan bekerja dan berfikir. Betulkah?&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Untuk menilai apakah satu ajaran tidak Islami dan dianggap sebagai terkena infiltrasi budaya asing tidak cukup hanya karena ada kesamaan istilah atau ditemukannya beberapa kemiripan dalam laku ritual dengan tradisi agama lain atau karena ajaran itu muncul belakangan, paska Nabi dan para shahabat. Perlu analisis yang lebih sabar, mendalam, dan objektif. Tidak bisa hanya dinilai dari kulitnya saja, tapi harus masuk ke substansi materi dan motif awalnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tasawuf pada mulanya dimaksudkan sebagai tarbiyah akhlak-ruhani: mengamalkan akhlak mulia, dan meninggalkan setiap perilaku tercela. Atau sederhananya, ilmu untuk membersihkan jiwa dan menghaluskan budi pekerti. Demikian Imam Junaid, Syeikh Zakaria al-Anshari mendefiniskan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Asal kata sufi sendiri ulama berbeda pendapat. Tapi perdebatan asal-usul kata itu tak terlalu penting. Adapun penolakan sebagian orang atas tasawuf karena menganggap kata sufi tidak ada dalam al-Qur'an, dan tidak dikenal pada zaman Nabi, Shahabat dan tabi'in tidak otomatis menjadikan tasawuf sebagai ajaran terlarang! Artinya, kalau mau jujur sebetulnya banyak sekali istilah-istilah (seperti nahwu, fikih, dan ushul fikih) yang lahir setelah periode Shahabat, tapi kenapa orang2 wahabi/salafy kita tidak alergi, bahkan menggunakannya dengan penuh kesadaran?&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sejarah Tasawuf&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kenapa gerakan tasawuf baru muncul paska era Shahabat dan Tabi'in? Kenapa tidak muncul pada masa Nabi? Jawabnya, saat itu kondisinya tidak membutuhkan tasawuf. Perilaku umat masih sangat stabil. Sisi akal, jasmani dan ruhani yang menjadi garapan Islam masih dijalankan secara seimbang. Cara pandang hidupnya jauh dari budaya pragmatisme, materialisme dan hedonisme.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tasawuf sebagai nomenklatur sebuah perlawanan terhadap budaya materialisme belum ada, bahkan tidak dibutuhkan. Karena Nabi, para Shahabat dan para Tabi'in pada hakikatnya sudah sufi: sebuah perilaku yang tidak pernah mengagungkan kehidupan dunia, tapi juga tidak meremehkannya. Selalu ingat pada Allah Swt sebagai sang Khaliq&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ketika kekuasaan Islam makin meluas. Ketika kehidupan ekonomi dan sosial makin mapan, mulailah orang-orang lalai pada sisi ruhani. Budaya hedonisme pun menjadi fenomena umum. Saat itulah timbul gerakan tasawuf (sekitar abad 2 Hijriah). Gerakan yang bertujuan untuk mengingatkan tentang hakikat hidup.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tidak seluruh ajaran agama harus ada contohnya (dikerjakan langsung pada saat itu) oleh Rasulullah saw. Bisa saja Nabi hanya mengatakan itu tapi ia tidak melakukannya. Misalnya, Nabi saw memerintahkan umatnya untuk berziarah ke makamnya. Nabi bersabda, “Barangsiapa yang berziarah kepadaku setelah aku meninggal dunia sama dengan berkunjung kepadaku ketika aku masih hidup.” Pada saat itu Nabi tidak mencontohkan (tidak melakukan) untuk berziarah ke makamnya sendiri. Yang dimaksud dengan sunnah Nabi bukan hanya yang beliau contohkan saja. Yang dicontohkan oleh Nabi (yang dikerjakan langsung pada saat itu) disebut sunnah fi’liyyah. Tapi ada juga yang disebut dengan sunnah qawliyyah, yaitu sunnah yang hanya diucapkan oleh Nabi dan sunnah taqririyyah, sunnah dari diamnya Nabi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Urgensitas Tasawuf&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Imam Ghazali dalam an-Nusrah an-Nabawiahnya mengatakan bahwa mendalami dunia tasawuf itu penting sekali. Karena, selain Nabi, tidak ada satupun manusia yang bisa lepas dari penyakit hati seperti riya, dengki, hasud dll. Dan, dalam pandangannya, tasawuf lah yang bisa mengobati penyakit hati itu. Karena, tasawuf konsentrasi pada tiga hal dimana ketiga-tiganya sangat dianjurkan oleh al-Qur'an al-karim. Pertama, selalu melakukan kontrol diri, muraqabah dan muhasabah. Kedua, selalu berdzikir dan mengingat Allah Swt. Ketiga, menanamkan sifat zuhud, cinta damai, jujur,sabar, syukur, tawakal, dermawan dan ikhlas.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Berikut ini adalah hadis tentang keutama-an majelis zikir. Rasulullah saw bersabda, “Bila suatu kaum duduk dalam satu majelis dan bersama-sama berzikir kepada Allah swt, para malaikat akan mengiringi mereka dan mencurah-kan kepada mereka rahmat Allah swt.” Dalam hadis lain yang diriwayatkan oleh Muslim dengan sanad yang sahih dari Abu Hurairah, Rasulullah saw bersabda, “Jika satu kaum berkumpul berzikir kepada Allah dan mereka hanya mengharapkan keridaan Allah, para malaikat akan berseru dari langit: Berdirilah kalian dengan ampunan Allah kepada kalian dan seluruh keburukan kalian telah Allah ganti dengan kebaikan.” Dalam  hadis lain yang diriwayatkan oleh Al-Turmudzi dengan sanad yang hasan, Rasulullah saw bersabda, “Jika satu kaum duduk dalam suatu majelis tetapi selama mereka kumpul itu mereka tidak menyebut asma Allah swt atau shalawat kepada Rasulullah saw, maka majelis itu akan menjadi penyesalan yang dalam di hari kiamat nanti.”&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Hadis ini sekaligus menyanggah pendapat Ibnu Taimiyyah yang menjelaskan bahwa zikir berjamaah itu bid’ah (tidak mencontoh Rosululloh). Ibnu Taimiyyyah, yang terkenal karena kebenciannya kepada tasawuf dan tuduhannya bahwa para sufi itu kafir, berkata: “Sesungguhnya majelis zikir itu bid’ah. Adapun majelis zikir adalah bid’ah yang dibuat oleh orang-orang yang menisbahkan dirinya kepada pengikut tasawuf abad ke-2 Hijriah. Setelah itu, pada majelis zikir itu ada yang memasukan tarian, nyanyian, dan memukul-mukul genderang yang mengacaukan zikir.”&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Melihat konsenstrasi bahasan tasawuf di atas, jelas sekali bahwa tasawuf bagian dari Islam.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tasawuf dan Tuduhan-Tuduhan Miring&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Demi objektifitas, menilai apakah tasawuf melenceng dari ajaran Islam apa tidak, kita harus melewati beberapa kriteria di bawah ini. Dengan kriteria ini secara otomatis kita bisa mengukur hakikat tasawuf.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pertama sekali, penilaian harus melampaui tataran kulit, dan langsung masuk pada substansi materi dan tujuannya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Lantas apa substansi materi tasawuf? Seperti dijelaskan di atas tujuan tasawuf adalah dalam rangka membersihkan hati, mengamalkan hal-hal yang baik, dan meninggalkan hal-hal yang jelek. Seorang sufi dituntut selalu ikhlas, ridha, tawakal, dan zuhud - tanpa sama sekali mengatakan bahwa kehidupan dunia tidak penting.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kedua, Menilai secara objektif, jauh dari sifat tendensius dan menggenalisir masalah.&lt;br&gt;Sikap ini sangat penting. Karena pembacaan terhadap sebuah kasus yang sudah didahului oleh kesimpulan paten akan menghalangi objektifitas, dan memburamkan kebenaran sejati.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ketiga, memahami istilah atau terminologi yang biasa digunakan para sufi, sehingga kita tidak terjebak kepada ketergesa-gesaan dalam memvonis sebuah masalah. &lt;br&gt;Misalnya dalam dunia sufi dikenal istilah zuhud. Kemudian orang sering salah mengartikan bahwa zuhud adalah benci segala hal duniawi. Zuhud identik dengan malas kerja, dst. Padahal kalau kita teliti dengan sedikit kesabaran tentang apa itu arti zuhud yang dimaksud para sufi, maka kita akan menemukan bahwa zuhud yang dimaksud tidak seperti persepsi di atas. Abu Thalib al-Maki, seorang tokoh sufi, misalnya, punya pandangan bahwa bekerja dan memiliki harta sama sekali tidak mengurangi arti zuhud dan tawakal.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Keempat, dalam vonis hukum, kita perlu membedakan antara hukum sufi yang mengucapkan kata-kata dalam keadan ecstasy(Jadhab) dan dalam keadaan sadar. &lt;br&gt;Konsep ini penting sekali, supaya kita tidak terjebak pada sikap ekstrim seperti memvonis kafir, musyrik, fasik, dll.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kesimpulan&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Setelah mengetahui hakikat ajaran tasawuf di atas jelaslah bahwa ajaran tasawuf, adalah bagian dari kekayaan khazanah Islam. Ia bukanlah aliran sesat. Bahwa ada &lt;br&gt;penyimpang oknum atau lembaga sufi itu tidak berarti tasawuf secara keseluruhan jelek dan sesat. Kita jangan sekali-kali terjebak apada generalisir masalah. Karena sejatinya, tokoh-tokoh sufi berpendapat ajaran tasawuf harus bersendikan al-Qur'an dan Hadis. Diluar itu ditolak!&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tasawuf, seperti dinyatakan Syeikh Yusuf al-Qaradhawi, adalah bagian tak terpisahkan dari ajaran Islam. Karena misi tasawuf memperbaiki akhlak. Dan akhlak jelas sekali bagian dari Islam. Karena Nabi Muhamad Saw diutus untuk menyempurnakan akhlak.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Oleh karena itu sesungguhnya tasawuf adalah Islam, dan Islam adalah tasawuf. Untuk mencapai kesempurnaan ibadah dan keyakinan dalam Islam, seseorang hendaknya mempelajari ilmu tasawuf melalui thariqah-thariqah yang mu’tabar dari segi silsilah dan ajarannya. Para ulama besar kaum muslimin sama sekali tidak menentang tasawuf, tercatat banyak dari mereka yang menggabungkan diri sebagai pengikut dan murid tasawuf, para ulama tersebut berkhidmat dibawah bimbingan seorang syaikh thariqah yang arif, bahkan walaupun ulama itu lebih luas wawasannya tentang pengetahuan Islam, namun mereka tetap menghormati para syaikh yang mulia, hal ini dikarenakan keilmuan yang diperoleh dari jalur pendidikan formal adalah ilmu lahiriah, sedangkan untuk memperoleh ilmu batiniyah dalam membentuk qalbun salim dan kesempurnaan ahlak, seseorang harus menyerahkan dirinya untuk berkhidmat dibawah bimbingan seorang syaikh tasawuf yang sejati.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Empat orang imam mazhab Sunni, semuanya mempunyai seorang syaikh thariqah. Melalui syaikh itulah mereka mempelajari Islam dalam sisi esoterisnya yang indah dan agung. Mereka semua menyadari bahwa ilmu syariat harus didukung oleh ilmu tasawuf sehingga akan tercapailah pengetahuan sejati mengenai hakikat ibadah yang sebenarnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Imam Abu Hanifah (Nu’man bin Tsabit - Ulama besar pendiri mazhab Hanafi) adalah murid dari Ahli Silsilah Thariqat Naqsyabandiyah yaitu Imam Jafar as Shadiq ra . Berkaitan dengan hal ini, Jalaluddin as Suyuthi didalam kitab Durr al Mantsur, meriwayatkan bahwa Imam Abu Hanifah (85 H.-150 H) berkata, “Jika tidak karena dua tahun, Nu’man telah celaka. Karena dua tahun saya bersama Sayyidina Imam Jafar as Shadiq, maka saya mendapatkan ilmu spiritual yang membuat saya lebih mengetahui jalan yang benar”.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Imam Maliki (Malik bin Anas - Ulama besar pendiri mazhab Maliki) yang juga murid  Imam Jafar as Shadiq ra, mengungkapkan pernyataannya yang mendukung terhadap ilmu tasawuf sebagai berikut, “Barangsiapa mempelajari/mengamalkan tasawuf tanpa fiqih maka dia telah zindik, dan barangsiapa mempelajari fiqih tanpa tasawuf dia tersesat, dan siapa yang mempelari tasawuf dengan disertai fiqih dia meraih kebenaran.” (’Ali al-Adawi dalam kitab Ulama fiqih, vol. 2, hal. 195 yang meriwayatkan dari Imam Abul Hasan).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Imam Syafi’i (Muhammad bin Idris, 150-205 H ; Ulama besar pendiri mazhab Syafi’i) berkata, “Saya berkumpul bersama orang-orang sufi dan menerima 3 ilmu:&lt;/p&gt;&lt;p&gt;1. Mereka mengajariku bagaimana berbicara&lt;br&gt;2. Mereka mengajariku bagaimana memperlakukan orang lain dengan kasih sayang dan kelembutan hati&lt;br&gt;3. Mereka membimbingku ke dalam jalan tasawuf.”&lt;br&gt;(Riwayat dari kitab Kasyf al-Khafa dan Muzid al Albas, Imam ‘Ajluni, vol. 1, hal. 341)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Imam Ahmad bin Hanbal (164-241 H ; Ulama besar pendiri mazhab Hanbali berkata, “Anakku, kamu harus duduk bersama orang-orang sufi, karena mereka adalah mata air ilmu dan mereka selalu mengingat Allah dalam hati mereka. Mereka adalah orang-orang zuhud yang memiliki kekuatan spiritual yang tertinggi. Aku tidak melihat orang yang lebih baik dari mereka” (Ghiza al Albab, vol. 1, hal. 120 ; Tanwir al Qulub, hal. 405, Syaikh Amin al Kurdi)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Syaikh Fakhruddin ar Razi (544-606 H ; Ulama besar dan ahli hadits) berkata, “Jalan para sufi adalah mencari ilmu untuk memutuskan hati mereka dari kehidupan dunia dan menjaga diri agar selalu sibuk dalam pikiran dan hati mereka dengan mengingat Allah pada seluruh tindakan dan perilaku .” (I’tiqad al Furaq al Musliman, hal. 72, 73)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ibn Khaldun (733-808 H ; Ulama besar dan filosof Islam) berkata, “Jalan sufi adalah jalan salaf, yakni jalannya para ulama terdahulu di antara para sahabat Rasulullah Saww, tabi’in, dan tabi’it-tabi’in. Asasnya adalah beribadah kepada Allah dan meninggalkan perhiasan serta kesenangan dunia.” (Muqadimah ibn Khaldun, hal. 328)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Imam Jalaluddin as Suyuti (Ulama besar ahli tafsir Qur’an dan hadits) didalam kitab Ta’yad al haqiqat al ‘Aliyyah, hal. 57 berkata, “Tasawuf yang dianut oleh ahlinya adalah ilmu yang paling baik dan terpuji. Ilmu ini menjelaskan bagaimana mengikuti Sunah Nabi Saww dan meninggalkan bid’ah.”&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Bahkan Ibnu Taimiyyah (661-728 H), salah seorang ulama yang dikenal keras menentang tasawuf pada akhirnya beliau mengakui bahwa tasawuf adalah jalan kebenaran, sehingga beliaupun mengambil bai’at dan menjadi pengikut thariqah Qadiriyyah. Berikut ini perkataan Ibnu Taimiyyah didalam kitab Majmu al Fatawa Ibn Taimiyyah, terbitan Dar ar Rahmat, Kairo, Vol. 11, hal. 497, dalam bab. Tasawuf : “Kalian harus mengetahui bahwa para syaikh yang terbimbing harus diambil dan diikuti sebagai petunjuk dan teladan dalam agama, karena mereka mengikuti jejak Para Nabi dan Rasul. Thariqah para syaikh itu adalah untuk menyeru manusia kepada kehadiran dalam Hadhirat Allah dan ketaatan kepada Nabi.” Kemudian dalam kitab yang sama hal. 499, beliau berkata, “Para syaikh harus kita ikuti sebagai pembimbing, mereka adalah teladan kita dan kita harus mengikuti mereka. Karena ketika kita berhaji, kita memerlukan petunjuk (dalal) untuk mencapai Ka’ bah, para syaikh ini adalah petunjuk kita (dalal) menuju Allah dan Nabi kita.” Di antara para syaikh sufi yang beliau sebutkan didalam kitabnya adalah, Syaikh Ibrahim ibn Adham ra, guru kami Syaikh Ma’ruf al Karkhi ra, Syaikh Hasan al Basri ra, Sayyidah Rabi’ah al Adawiyyah ra, guru kami Syaikh Abul Qasim Junaid ibn Muhammad al Baghdadi ra, guru kami Syaikh Abdul Qadir al Jailani, Syaikh Ahmad ar Rifa’i ra, dll.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Didalam kitab “Syarh al Aqidah al Asfahaniyyah” hal. 128. Ibnu Taimiyyah berkata, “Kita (saat ini) tidak mempunyai seorang Imam yang setara dengan Malik, al Auza’i, at Tsauri, Abu Hanifah, as Syafi’i, Ahmad bin Hanbal, Fudhail bin Iyyadh, Ma’ruf al Karkhi, dan orang-orang yang sama dengan mereka.” Kemudian sejalan dengan gurunya, Ibnu Qayyim al Jauziyyah didalam kitab “Ar Ruh” telah mengakui dan mengambil hadits dan riwayat-riwayat dari para pemuka sufi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dr. Yusuf Qardhawi, guru besar Universitas al Azhar, yang merupakan salah seorang ulama Islam terkemuka abad ini didalam kumpulan fatwanya mengatakan, “Arti tasawuf dalam agama ialah memperdalam ke arah bagian ruhaniah, ubudiyyah, dan perhatiannya tercurah seputar permasalahan itu.” Beliau juga berkata, “Mereka para tokoh sufi sangat berhati-hati dalam meniti jalan di atas garis yang telah ditetapkan oleh Al-Qur,an dan As-Sunnah. Bersih dari berbagai pikiran dan praktek yang menyimpang, baik dalam ibadat atau pikirannya. Banyak orang yang masuk Islam karena pengaruh mereka, banyak orang yang durhaka dan lalim kembali bertobat karena jasa mereka. Dan tidak sedikit yang mewariskan pada dunia Islam, yang berupa kekayaan besar dari peradaban dan ilmu, terutama di bidang marifat, akhlak dan pengalaman-pengalaman di alam ruhani, semua itu tidak dapat diingkari.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Seperti itulah pengakuan para ulama besar kaum muslimin tentang tasawuf. Mereka semua mengakui kebenarannya dan mengambil berkah ilmu tasawuf dengan belajar serta berkhidmat kepada para syaikh thariqah pada masanya masing-masing. Oleh karena itu tidak ada bantahan terhadap kebenaran ilmu ini, mereka yang menyebut tasawuf sebagai ajaran sesat atau bid’ah adalah orang-orang yang tertutup hatinya terhadap kebenaran, orang-orang yang hatinya dipenuhi nafsu duniawi dan keangkara murkaan, sesungguhnya yang sesat adalah mereka tidak mengikuti jejak-jejak para ulama kaum salaf yang menghormati dan mengikuti ajaran tasawuf Islam.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Orang-orang yang menusuk dunia Sufi dalam Islam dan ingin merobohkan bahkan ingin menghancurkan dengan berbagai kedustaan, dengan melemparkannya melalui pandangannya yang sesat terbagi menjadi berbagai kelompok: Ada yang memusuhi karena benci dan dendam pada Islam, ada juga karena kebodohannya terhadap hakikat Tasawuf, lalu mereka terkubang dalam kebodohan yang mendustakan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kelompok Pertama:&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Adalah musuh-musuh Islam dari kaum Zindiq Orientalis dan anthek-antheknya melalui rentetan perang Salib dan aktivitas kolonialisme yang penuh dendam, semata mereka hanya ingin merobohkan benteng-benteng Islam, menghancurkan rambu-rambu utamanya, dan menebarkan racun permusuhan dengan mengembangkan konflik antar barisan Islam.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Mohammad Asad, salah satu orientalis yang masuk Islam telah membuka kedok mereka dalam bukunya, al-Islam fi Muftariqit Thuruq, ketika membicarakan pengaruh perang Salib.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Mereka memiliki semangat besar untuk meneliti Islam dalam rangka mengetahui rahasia kekuatannya, agar mereka tahu dari mana pintu-pintu masuknya, dan dari gerbang mana jalan menuju umat Islam untuk merobohkan dan merekayasa keburukannya. Diantara para orientalis itu, yang paling berpengaruh adalah RA Nicholson dari Inggris, Goldziher Yahudi, Louis Massignon dari Perancis dan lainnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Di satu sisi mereka menebar racun dalam madu, dan memuji Islam dalam sebagian buku-bukunya agar menarik respon pembaca. Ketika mulai tertarik, mereka membuat pengaruh pada akidahnya, lalu menebar kebatilan dalam hatinya untuk ditaburkan pada Islam, dengan berbagai dosa dan dusta.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kadang-kadang mereka membuat rincian akademik yang spesifik, bahkan berjubah keagamaan, lalu mengenalkan Tasawuf sebagai ruhnya Islam. Namun di satu sisi mereka menegaskan bahwa Tasawuf itu sesungguhnya warisan dari Yahudi, Nasrani dan Budha. Mereka membuat keraguan pada pembacanya bahwa Tasawuf adalah pandangan yang telah menyimpang dan sesat, seperti pandangan tentang Hulul dan Ittihad, Wahdatul Wujud, dan Wahdatul Adyan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kita tahu, dan kita tidak asing dengan tudingan mereka, karena mereka adalah musuh. Karena demikian watak musuh dan pemakar. Kita tidak perlu lagi merinci hujatan mereka, karena kita sudah mengenal watak para musuh dunia Sufi dengan tujuannya yang begitu kotor.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Namun yang memprihatinkan kita adalah mereka yang mengaku sebagai tokoh Islam, tetapi mereka mengadopsi pandangan-pandangan musuh Islam itu untuk dijadikan pegangan demi menusuk Islam dari dalam, menusuk Ruh-nya Islam / Mutiara Islam, yang tidak lain adalah Tasawuf. Apakah dibenarkan bagi seorang muslim yang berakal, mengambil pandangan dari musuh-musuh Islam yang kafir demi menusuk sesama saudaranya yang muslim? Maha Suci Allah, sungguh sebuah kebohongan besar.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kelompok Kedua&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Adalah mereka yang bodoh terhadap ajaran hakikat Tasawuf Islam, karena mereka tidak mendapatkan bimbingan dari tokoh Sufi yang benar dan dari kalangan Ulamanya yang Ikhlas. Bahkan mereka mengambil analisa tentang tasawuf dengan pandangan yang mengaburkan, jauh dari kejelasan dan fakta.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Mereka ini terbagi-bagi:&lt;br&gt;1. Mereka mengambil pandangan Sufi dari kalangan yang mengamalkan tasawuf secara menyimpang yang mengaku sebagai gerakan Tasawuf, tanpa membedakan antara hakikat Tasawuf yang terang dengan peristiwa-peristiwa penyimpangan tasawuf.&lt;br&gt; 2. Ada kalangan yang terpeleset karena sesuatu yang ditemukan dalam kitab-kitab Tasawuf, sebagai rahasia tersembunyi, lantas menafsirkan menurut selera mereka tanpa adanya pendalaman hakikatnya, bahkan mereka memahami menurut perspektif mereka sendiri, menurut pengetahuan mereka yang terbatas dan dangkal. Tanpa mereka mau merujuk pada wacana dunia Tasawuf yang terang dan jelas yang tidak melanggar syariat. Mereka tidak menerjemahkan melalui pandangan kaum Sufi sendiri terhadap hal-hal yang tersembunyi itu.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Mereka ini semisal orang yang dalam qalbunya ada penyimpangan dan penyakit jiwa, lalu menakwilkan ayat-ayat Al-Qur’an yang Mutasyabihat dengan penafsiran dangkal mereka yang menyimpang, tanpa mereka memahami ayat-ayat Muhkamat (tegas) dan jelas makna dan tujuannya. Allah Ta’ala berfirman: &lt;br&gt;“Dialah yang menurunkan kepadamu Kitab, darinya ada ayat-ayat Muhkamat dan disanalah ada Ummul Kitab, dan ayat lain bersifat Mutasyabihat. Sedangkan mereka yang hatinya ada penyimpangan, mereka mengikuti yang kabur dari ayat itu demi menimbulkan fitnah dan meraih rekayasa pemahaman.”&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Karena itu agar tidak disalahpahami, sejumlah Ulama Sufi menjelaskan berbagai rahasia Tasawuf dalam kitab-kitabnya, seperti yang dilakukan oleh Ibnu Araby dalam kitabnya Al-Futuhatul Makkiyyah dan Ar-Risalah oleh al-Qusyairy.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = == = = = = = = = = = = = = = = = =&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Bisa Jadi Yang Memvonis Semua Tasawuf Sesat Itulah Yang Tersesat&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Salafiyah Tidak seperti yang kami duga sebelumnya, mungkin juga anda, almarhum Syeikh Ghazali, DR. Yusuf Qaradhawi, DR. Ramdhan al-Bouti, DR. Aly Gum'ah –Mufti Mesir, dan sejumlah tokoh Islam lainnya yang selama ini dikenal moderat, ternyata juga tak luput dari hujatan, dibid'ahkan, bahkan kadang dianggap berpikiran sesat, oleh sekelompok orang yang mengaku salafi. Syeikh Ghazali menamakan kelompok yang kerap mengaku paling salafi ini sebagai Salafi-Baru.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tak cukup individu saja yang dikecam, organisasi-organisasi sosial-keagamaan yang tidak sejalan dengan pemikirannya, seperti Nahdhatul Ulama (NU), Jama'ah Thoriqoh Muktabarok (Thoriqoh yang diakui keabsyahannya di dunia Islam), Ikhwan Muslimin, dll, pun juga kena semprot bahkan dikatakan sesat. Seringkali yang terakhir ini diplesetkan menjadi Ikhwanul Muflisin.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Fenomena ini, dalam konteks kepentingan Islam global, tentu sangat tidak menarik, bahkan mengkhawatirkan! Karena mengganggu soliditas dan persaudaraan umat. Juga mengganggu konsentrasi primer yang lebih mendesak untuk digarap umat Islam dewasa ini, yaitu pendangkalan pemahaman hakikat Islam, mengentas kemiskinan, mengejar ketinggalan dalam bidang pendidikan, hi-tec, wawasan peran global dan hal krusial lainnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Terma Salaf&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Secara etimologis, kata salaf sepadan dengan kata qablu. Artinya setiap sesuatu yang sebelum kita. Lawan kata salaf adalah khalaf (generasi setelah kita). Kata ini kemudian menjadi sebuah terminologi untuk menunjuk pada generasi keemasan Islam, tiga generasi pertama Islam: para Sahabat, Tabi'in dan Tabi' Tabi'in atau Salaf Shalih. Istilah ini merujuk pada hadis Nabi: Khairul quruni qarni..... (H.R. Bukhari dan Muslim).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dalam wacana Islam kontemporer, kata salaf kemudian diimbuhi ya nisbat pada hurup akhirnya: menjadi salafi, kadang juga salafiyah – dengan penambahan ta, setelah ya, untuk menunjuk pada kelompok Islam yang menjadikan cara berpikir dan suluk generasi salaf sebagai sumber inspirasi. Bahkan beberapa kelompok salafi menganggapnya sebagai mazhab.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Terma salafi pada perkembangan berikutnya, mengalami metamorfosis dan tidak bisa diartikan tunggal lagi. Kalimat itu menjadi multi makna. Sikap tak terburu-buru dalam analisis menjadi sebuah keniscayaan ketika menemukan kalimat salafi. Karena pada tingkat sesama pemikir saja, umpamanya, konotasinya bisa berbeda satu sama lain. Misalnya, Goerge Tharabisi dan Aziz Azmah, menggunakan kata salafi untuk sesuatu yang pejoratif: untuk menunjuk arus pemikiran atau kelompok yang anti segala hal yang berbau modernitas dan anti pembaharuan. Lawan dari terma salafi model ini adalah progresif (taqadumi). Sementara, Abid Jabiri, Fahmi jad'an, dan sebagian orientalis menggunakan istilah salafi untuk menunjuk pada setiap gerakan atau pemikiran Islam, yang menjadikan al-Qur'an dan Hadis sebagai sumber utama pemikirannya. Makna yang terakhir ini cakupan lebih luas: memasukan banyak tokoh dan kelompok Islam, baik yang moderat, "literal" -dzahiriyah judud, dan semua kecenderungan pemikiran yang menjadikan al-Qur'an dan Hadis sebagai rujukan utama.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pada tingkatan klaim antar sesama kelompok pengikut salafi, juga tak kalah ruwetnya. Banyak sekali kelompok yang mengklaim dirinya sebagai salafi hakiki. Di Kuwait, misalnya, data menunjukkan ada lima kelompok yang sama-sama mengaku sebagai salafi, satu sama lain saling kecam dan mendaku sebagai yang paling sah.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sejatinya, salaf bukanlah sebuah mazhab dan juga bukan personifikasi individu. Seperti pernah disinggung di atas, ia adalah sebuah generasi yang disabdakan Nabi sebagai generasi terbaik, yang mencakup tiga generasi Islam pertama. Kenapa dianggap yang terbaik? Karena mereka adalah generasi yang paling dekat, dengan pengertian seluas-luasnya, dengan masa kenabian. Terutama generasi pertama yang langsung dapat bimbingan dari Rasulullah Saw. Apa makna hadis ini bagi generasi setelahnya? Hadis ini mengajak kita semua untuk menjadikan metode berpikir dan cara bersikap mereka sebagai sumber inspirasi. Bukan malah dijadikan mazhab! Maka tak semua yang mengaku salafi akan otomatis berpikiran kolot. Tergantung kepada artikulasi dan cara memahami pola berpikir dan suluk salaf shalih itu sendiri. Dalam pandangan saya, salafi sejati tidak akan berpikir dan bersikap kaku. Dan kata salaf sendiri secara bahasa sangat netral dan sama sekali tidak mengandung arti pejoratif.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Hanya saja, karena berbagai faktor, pada akhirnya, istilah salafi sangat identik dengan kelompok Wahabi, sebuah aliran yang didirikan Syeikh Muhamad Bin Abdul Wahab (1703-1791) di Najd, Arab Saudi. Sebagian dari mereka, ada perasaan bahwa dirinya lah yang paling salafi. Mereka sendiri, sebetulnya lebih enjoy dipanggil salafi, daripada Wahabi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tapi, sayangnya ditangan mereka, makna salafi kemudian dicederai, dikerangkeng pada permasalahan furu'iyah dan perdebatan-perdebatan lama ulama klasik, baik di bidang Fikih, Ilmu Kalam, Tashawuf. Dalam Fikih mereka lebih konsen: membid'ah-bid'ahkan tradisi maulid nabi, ziarah, tawasul dan yang sejenisnya. Dalam Ilmu Kalam, alih-alih menanamkan hakikat makna tauhid, mereka memperdebatkan kembali tentang, misalnya, asma wa sifat dan bahayanya menta'wil ayat ar-Rahmanu 'ala al-'arsyi istawa dengan tawil sebagai kinayah dari keagungan Allah Swt, dll. Mereka akan mengecam siapa pun yang tidak sejalan dengan alur pemikirannya. Tak heran, kalau dicermati karya-karyanya, maka kita akan menemukan daftar-daftar bid'ah mulai yang klasik sampai bid'ah kontemporer. Judulnya pun bisa kita tebak seputar rad wa al'tirad mandul: fulan dalam timbangan Islam, mengcounter pemikiran fulan atau menelanjangi pemikiran fulan. Tentu saja bukan berarti kita tidak boleh untuk mendiskusikan kembali soal-soal di atas. Yang tidak boleh adalah menjadikan permasalahan di atas sebagai prioritas utama.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tulisan ini dimaksudkan sebagai pengantar singkat untuk membedah dan mendiskusikan kembali metode dan gerakan Salafi-Wahabi saja. Tak akan membahas gerakan salafi secara umum. Sudah kita maklumi semua, akhir-akhir ini, dalam beberapa hal, sebagian oknum yang berafiliasi pada kelompok Salafi-Wahabi dianggap kerap melakukan tindakkan-tindakkan yang berpotensi merusak citra Islam, meresahkan dan banyak menimbulkan perpecahan dikalangan intern umat Islam. Tidak hanya di Timur Tengah, tapi juga di negara-negara dimana ada komunitas Islamnya, termasuk di Barat. "Lawannya" pun di batasi hanya dari kelompok-kelompok moderat saja: Syeikh Qaradhawi cs. Artinya, kritikan-kritkan keras Wahabi yang ada di tulisan ini, ditunjukkan buat tokoh-tokoh di atas yang selama ini dianggap moderat dan diakui otoritas keilmuannya. Poinnya, betapa sama tokoh moderat pun Wahabi masih merasa kegerahan. Sebelum mengenal lebih jauh tentang dasar pemikiran Salafi-Wahabi, ada baiknya kita petakan secara sederhana dulu gerakan awal salafi, dengan menjadikan Mesir, Maroko dan Saudi sebagai sampel.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Peta Gerakan Salafi&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Gerakan Salafi, lebih-lebih mulai awal abad 19 M. tidak hanya disuarakan di Arab Saudi saja, tapi juga di berbagai negara Islam, diantaranya Mesir, dan Maroko. Yang menyatukan gerakan salafi ditiga negara itu adalah keseriusannya terhadap pemberantasan bid'ah, purifikasi akidah, perlawanan atas gerakan tasawuf. Mungkin karena suasana dan tuntutan lingkungan yang berbeda, membuat Salafi Maroko dan Mesir dengan Jamaludin al-Afghani dan Muhamad Abduh sebagai pionirnya kemudian mempunyai kekhasan yang tidak dimiliki Salafi-Saudi atau Salafi-Wahabi. Misalnya, Salafi Maroko dan Mesir bisa lebih terbuka dengan modernitas dan tidak berhenti berkutat pada persoalan purifikasi akidah saja. Mereka mengalami lompatan perjuangan. Dalam kasus salafi Mesir, mereka langsung bergelut dengan problem kebangsaan yang sedang dihadapi. Abduh berani melakukan pembaharuan keagamaan, bahasa Arab dan reformasi fundamental metode pendidikan di universitas al-Azhar. Salafi Mesir juga bergabung bersama pemerintah mengangkat senjata untuk mengusir penjajahan Perancis. Hal yang sama pun berlaku bagi kelompok Salafi Maroko.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sementara Salafi Arab Saudi dihadapkan pada kenyataan lain. Mereka sibuk bertempur dengan saudara seagama. Secara eksternal dan dengan diback-up Inggris, mereka berperang melawan Dinasti Ustmani. Pada tingkat internal mereka keasyikan melakukan purifikasi akidah dan memberantas tarekat-tarekat sufi yang saat itu berkembang pesat di Arab Saudi. Latar belakang inilah mungkin yang kemudian bisa menjelaskan kenapa kelompok salafi Arab Saudi sangat keras: berpikir sempit dan kolot.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dasar-Dasar Pemikiran Salafi-Wahabi&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Apresiasi kita sama Wahabi yang sangat peduli dengan laku sunah, otentifikasi sanad hadis, purifikasi akidah dengan memberantas bid'ah-bid'ah, tak bisa menghapus kesan kuat, bahwa secara umum, baik dalam bidang pemikiran, keagamaan, sosial dan politik sebagian orang yang berafiliasi kepada Wahabi banyak mengadopsi pendapat-pendapat keras-kaku. Mulai dari mengharamkan sistem demokrasi, sistem partai, konsep nation-state, kepemimpinan wanita –bahkan wanita tidak boleh menyetir mobil sendiri, membid'ahkan maulid Nabi, ziarah kubur, zikir jama'ah, anti sufi sampai fatwa haram menggunakan sendok makan (lihat misalnya fatwa salah satu tokoh Salafi-Wahabi Yaman, Syeikh Muqbil dalam bukunya: as-Shawaiq Fi Tahrim Malaiq atau Halilintar: Tentang Haramnya Memakai Sendok.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Mencermati daftar permasalahan-permasalahan yang disesatkan-dibid'ahkan oleh mereka, maka kita akan berkesimpulan, bahwa kebanyakan daftar itu masuk wilayah mukhtaf fihi: suatu wilayah yang masih dan akan selalu diperdebatkan karena berangkat dari dalil yang tidak qath'i ats-tsubut wa ad-dilalah atau tidak ada ijma ulama. Sebetulnya sikap ulama klasik sudah sangat jelas dan bijak, bahwa dalam wilayah yang masih mukhtalaf fihi, siapa pun tidak boleh memaksakan pendapatnya. Karena akan terjebak pada fanatisme bermazhab dan perpecahan seperti sekarang ini. Semua orang bebas dengan pilihannya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pertanyaannya: apa gerangan yang menyebabkan konsentrasi mayoritas dari mereka tersedot pada hal-hal yang masih diperdebatkan? Apa yang membuat mereka seolah lupa bahwa masalah pokok umat Islam sekarang adalah kemiskinan, ketinggalan dalam bidang pendidikan, hi-tech dan bidang primer lainnya?&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Realitas di atas terjadi karena dasar pemikiran mereka banyak berlandaskan pada, diantaranya:&lt;/p&gt;&lt;p&gt;1.Ada pembalikan skala prioritas pada cara berpikir dan bertindaknya. Misalnya, mereka lebih memilih meneriakan slogan bid'ah-sesat pada orang yang merayakan acara maulid, ziarah kubur, dll yang hukumnya masih mukhtaf fihi, walapun berpotensi mengancam persatuan umat. Karena jelas sikap keras itu akan menimbulkan ketersinggungan dan menimbulkan aksi balas yang kontra-produktif.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;2.Dalam bidang pengetahuan agama, mereka terlalu konsen dengan menghafalkan tumpukan matan-syarah kitab, dan sibuk dengan fikih furu'iyah yang sering tidak di bandingi dengan pengetahuan kontemporer, sehingga yang terjadi adalah keluarnya fatwa-fatwa keras pada soal khilafiyah yang sering bertabrakan dengan kemaslahatan umat.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;3.Menutup pintu kebenaran dari pendapat orang lain. Seolah yang benar hanya dirinya saja. Efeknya mereka menekan orang lain untuk ikut pendapatnya. Bahkan sebagian dari mereka tak segan untuk menyesatkan ulama yang berfatwa kebalikan dari pendapatnya. Lihat misalnya kasus yang menimpa pengarang buku best seller, La Tahzan, Dr. 'Aidh al-Qarni yang dikecam habis gara-gara berfatwa wanita boleh tak memakai cadar dan boleh ikut pemilu. Hal yang sama juga pernah menimpa almarhum Syeikh Ghazali dan Syeikh Qaradhawi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;4.Sering me-blowup permasalahan ajaran sufi, ziarah kubur, maulid nabi, tawasul dan sejenisnya, seolah-olah ukuran tertinggi antara yang hak dan bathil. Tapi pada saat yang sama mereka tidak peduli pada kebijakan publik dari pemerintahnya yang kadang tidak berpihak pada kepentingan rakyat dan umat Islam. Mereka taat total pada penguasa yang kadang kebijakannya tidak arif. Sangat jarang, kalau tak dikatakan tak ada, tokoh-tokoh Wahabi melakukan kritik pedas pada pemerintahan Arab saudi soal soal sistem pemerintah, kebijakan penjualan minyak, kebijakan politik luar negeri, lebih-lebih mengkritik "kedekatan" pemerintahanya sama Amerika dan sekutunya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;5.Terlalu mengagungkan tokoh-tokoh kuncinya, semisal Ibnu Taymiah, Bin Baz, dll, sehingga mengurangi nalar kritis. Padahal, pada saat yang sama mereka berteriak anti taklid!&lt;/p&gt;&lt;p&gt;6.Terlalu asyik dengan permasalahan mukhlataf fihi, sehingga sering lalai dengan kepentingan global umat Islam&lt;/p&gt;&lt;p&gt;7.Terlalu tekstualis, sehingga sering menyisihkan pentingnya akal dan kerap alergi dengan hal-hal baru.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Lembaran Hitam di Balik Penampilan Keren Kaum Wahabi : Ke mana-mana selalu menyebarkan salam. Selalu memakai baju bercorak gamis dan celana putih panjang ke bawah lutut, ciri-khas orang Arab. Jenggotnya dibiarkannya lebat dan terkesan menyeramkan. Slogannya pemberlakuan syariat Islam. Perjuangannya memberantas syirik, bid’ah, dan khurafat. Referensinya, al-Kitab dan Sunah yang sahih. Semuanya serba keren, valid, islami. Begitulah kira-kira penampilan kaum Wahabi. Sepintas dan secara lahiriah meyakinkan, mengagumkan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tapi jangan tertipu dulu dengan setiap penampilan keren. Kata pepatah jalanan, tidak sedikit di antara mereka yang memakai baju TNI, ternyata penipu, bukan tentara. Pada masa Rasulullah r, di antara tipologi kaum Khawarij yang benih-benihnya mulai muncul pada masa beliau, adalah ketekunan mereka dalam melakukan ibadah melebihi ibadah kebanyakan orang, sehingga beliau perlu memperingatkan para Sahabat t dengan bersabda, “Kalian akan merasa kecil, apabila membandingkan ibadah kalian dengan ibadah mereka.”&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Demikian pula halnya dengan kaum Wahabi, yang terkadang memakai nama keren “kaum Salafi”. Apabila diamati, sekte yang didirikan oleh Muhammad bin Abdul Wahhab an-Najdi (1115-1206 H/1703-1791 M), sebagai kepanjangan dari pemikiran dan ideologi Ibnu Taimiyah al-Harrani (661-728 H/1263-1328 M), akan didapati sekian banyak kerapuhan dalam sekian banyak aspek keagamaan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;A. Sejarah Hitam&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sekte Wahabi, seperti biasanya sekte-sekte yang menyimpang dari manhaj Islam Ahlusunah wal Jamaah memiliki lembaran-lembaran hitam dalam sejarah. Kerapuhan sejarah ini setidaknya dapat dilihat dengan memperhatikan sepak terjang Wahabi pada awal kemunculannya. Di mana agresi dan aneksasi (pencaplokan) terhadap kota-kota Islam seperti Mekah, Madinah, Thaif, Riyadh, Jeddah, dan lain-lain, yang dilakukan Wahabi bersama bala tentara Amir Muhammad bin Saud, mereka anggap sebagai jihad fi sabilillah seperti halnya para Sahabat menaklukkan Persia dan Romawi atau Sultan Muhammad al-Fatih menaklukkan Konstantinopel.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Selain menghalalkan darah kaum Muslimin yang tinggal di kota-kota Hijaz dan sekitarnya, kaum Wahabi juga menjarah harta benda mereka dan menganggapnya sebagai ghanîmah (hasil jarahan perang) yang posisinya sama dengan jarahan perang dari kaum kafir. Hal ini berangkat dari paradigma Wahabi yang mengkafirkan kaum Muslimin dan menghalalkan darah dan harta benda kaum Muslimin Ahlusunah wal Jamaah pengikut mazhab Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali yang tinggal di kota-kota itu. Lembaran hitam sejarah ini telah diabadikan dalam kitab asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhâb; ‘Aqîdatuhus-Salafiyyah wa Da’watuhul-Ishlâhiyyah karya Ahmad bin Hajar Al-Buthami (bukan Al-Haitami dan Al-‘Asqalani)–ulama Wahabi kontemporer dari Qatar–, dan dipengantari oleh Abdul Aziz bin Baz.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;B. Kerapuhan Ideologi&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dalam akidah Ahlusunah wal Jamaah, berdasarkan firman Allah, “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia (Allah)” (QS asy-Syura [42]: 11), dan dalil ‘aqli yang definitif, di antara sifat wajib bagi Allah adalah mukhâlafah lil-hawâdits, yaitu Allah berbeda dengan segala sesuatu yang baru (alam). Karenanya, Allah itu ada tanpa tempat dan tanpa arah. Dan Allah itu tidak duduk, tidak bersemayam di ‘Arasy, tidak memiliki organ tubuh dan sifat seperti manusia. Dan menurut ijmak ulama salaf Ahlusunah wal Jamaah, sebagaimana dikemukakan oleh al-Imam Abu Ja’far ath-Thahawi (227-321 H/767-933 M), dalam al-‘Aqîdah ath-Thahâwiyyah, orang yang menyifati Allah dengan sifat dan ciri khas manusia (seperti sifat duduk, bersemayam, bertempat, berarah, dan memiliki organ tubuh), adalah kafir. Hal ini berangkat dari sifat wajib Allah, mukhâlafah lil-hawâdits.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sementara Wahabi mengalami kerapuhan fatal dalam hal ideologi. Mereka terjerumus dalam faham tajsîm (menganggap Allah memiliki anggota tubuh dan sifat seperti manusia) dan tasybîh (menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya). Padahal menurut al-Imam asy-Syafi’i (150-204 H/767-819 M) seperti diriwayatkan olah as-Suyuthi (849-910 H/1445-1505 M) dalam al-Asybâh wan-Nazhâ’ir, orang yang berfaham tajsîm, adalah kafir. Karena berarti penolakan dan pengingkaran terhadap firman Allah, “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia (Allah).” (QS asy-Syura [42]: 11)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;C. Kerapuhan Tradisi&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Di antara ciri khas Ahlusunah wal Jamaah adalah mencintai, menghormati, dan mengagungkan Rasulullah, para Sahabat, ulama salaf yang saleh, dan generasi penerus mereka yang saleh seperti para habaib dan kiai yang diekspresikan dalam bentuk tradisi semisal tawasul, tabarruk, perayaan maulid, haul, dan lain-lain. &lt;br&gt;Sementara kaum Wahabi mengalami kerapuhan tradisi dalam beragama, dengan tidak mengagungkan Nabi r, yang diekspresikan dalam pengafiran tawasul dengan para nabi dan para wali. Padahal tawasul ini, sebagaimana terdapat dalam Hadis-Hadis sahih dan data-data kesejarahan yang mutawâtir, telah dilakukan oleh Nabi Adam u, para Sahabat t, dan ulama salaf yang saleh. Sehingga dengan pandangannya ini, Wahabi berarti telah mengafirkan Nabi Adam, para Sahabat, ahli Hadis, dan ulama salaf yang saleh yang menganjurkan tawasul.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Bahkan lebih jauh lagi, Nashiruddin al-Albani–ulama Wahabi kontemporer–sejak lama telah menyerukan pembongkaran al-qubbah al-khadhrâ’ (kubah hijau yang menaungi makam Rasulullah ) dan menyerukan pengeluaran jasad Nabi dari dalam Masjid Nabawi, karena dianggapnya sebagai sumber kesyirikan. Al-Albani juga telah mengeluarkan fatwa yang mengafirkan al-Imam al-Bukhari, karena telah melakukan takwil dalam ash-Shahih-nya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Demikian sekelumit dari ratusan kerapuhan ideologis Wahabi. Dari sini, kita perlu berhati-hati dengan karya-karya kaum Wahabi, sekte radikal yang lahir di Najd. Dalam Hadis riwayat al-Bukhari, Muslim, dan lain-lain, Nabi r bersabda, “Di Najd, akan muncul generasi pengikut Setan”. Menurut para ulama, maksud generasi pengikut Setan dalam Hadis ini adalah kaum Wahabi..&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Poin-poin di atas, menggiring kita pada kesimpulan bahwa Salafi-Modern mengalami krisis metodologis dan krisis fikih prioritas. Maka tak terlalu mengherankan kalau mereka juga biasa mengecam keras, dan sering gerah dengan sikap dan pendapat tokoh yang saya sebutkan di mukadimah yang dikenal moderat dan mumpuni secara keilmuan. Kesimpulan ini tentu tidak bisa digenerilisir begitu saja kepada semua Salafi-Wahabi. Karena ini sikap yang tidak ilmiah dan tak adil. Tapi, minimal, kalau kita amati buku-buku yang beredar tentang salafi yang ditulis oleh kalangan mereka, juga mengamati milist, maupun website yang dikelolanya, sedikit banyak anda mungkin akan setuju dengan kesimpulan saya. Lebih-lebih kalau yang dijadikan sampel adalah kalangan generasi mudanya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ada satu hal yang perlu digarisbawahi, dengan kritikan ini tidak berarti kita memandang remeh pada hal-hal yang mereka bahas. Juga tak berarti mereka tidak boleh memilih pendapat-pendapat yang menjadi keyakinannya. Itu adalah hak mereka. Yang salah adalah ketika pendapat-pendapat itu diekspor melewati teritorialnya kemudian dipaksakan kepada orang lain. Dan siapa saja yang menolak atau tidak ikut pendapatnya maka akan dihukumi bid'ah, bodoh akan hukum Islam dan disesatkan!&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Yang paling mengkhawatirkan bagi kita, krisis ini menyebabkan mereka sering kehilangan akal kesadaran akan kepentingan global umat Islam, bahwa kita sedang dikepung arus globalisasi dan era pasar bebas yang tak mungkin dihindari. Arus ini bisa menggerus siapa saja yang tak berdaya. Ya, saya takut kita kehilangan rasa persaudaran, rasa sepenanggungan dan militansi akan kepentingan umat Islam! Padahal sekarang ini umat Islam bukan pemegang pentas dunia, baik sosial, politik maupun ekonomi. Artinya kita butuh ukhuwah untuk menegaskan identitas kita, lebih dari pada masa-masa sebelumnya. Bukan Ukhuwah yang hanya berhenti untuk membangkitkan romantisisme masa kejayaan silam. Ukhuwah yang dimaksud adalah untuk membangkitkan tekad membangun kembali peradaban Islam.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sebagai penutup, marilah kita sadar fikih prioritas dan saling bahu-membahu pada hal yang kita sepakati, dan memberikan kebebasan memilih pada hal yang masih mukhtalaf fihi. Dan dalam bidang hukum Islam, khususnya, dan pemikiran pada umumnya mestinya sekarang ini jangan hanya mencukupkan diri pada apa yang telah dihasilkan ulama klasik sambil berteriak: ma taraka al-awal lil-akhir! (bahwa semuanya telah dibahas ulama klasik). Tapi harus menggabungkan antara apa yang pernah diwariskan ulama klasik dengan produk kontemporer. Dengan begitu kita tak tercerabut dari akar identitas kita, juga tak kaku-gagap dengan segala hal kebaruan. Konsep ini berdasarkan pada kenyataan bahwa setting formulasi-formulasi pemikiran ulama klasik banyak dihasilkan tepat pada saat umat Islam memegang kendali dunia. Ingat data sejarah mencatat -+ 700 tahun kita memegang peradaban dunia. Misalnya saja konsep bahwa non muslim yang tinggal di negara Islam harus mengenakan pakaian tertentu atau konsep uang yang wajib dizakati adalah uang yang berbentuh dinar dan dirham saja. Padahal dua jenis uang itu, kesaktiannya telah digantikan oleh uang kertas, khususnya dollar, dll.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Realitas saat ini sangat berbeda. Umat Islam sedang terpuruk dalam banyak hal. Data dilapangan menunjukan 50% umat Islam pendapatan perkapitanya dibawah 2 dollar. Dengan pendapatan itu jangan berpikir bisa meningkatan kualitas pendidikan. Membuat anaknya tidak kelaparan saja sudah sangat layak mendapatkan gelar Bapak Teladan!&lt;br&gt;Sekarang pertanyaannya: Sudah siapkah kita untuk lebih mendahulukan persatuan dan kepentingan umat?&lt;/p&gt;&lt;p&gt;= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =&lt;/p&gt;&lt;p&gt;(SEBUAH PUISI TENTANG TUHAN)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;DUNIA SERBA TUHAN ATAWA TUHAN SEMAKIN BANYAK&lt;br&gt;21 April 2008 10:58:19&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Di mana-mana semakin banyak tuhan &lt;br&gt;Di Irak dan Iran &lt;br&gt;Di Israel dan Afganistan &lt;br&gt;Di Libanon dan Nikaragua &lt;br&gt;Di India dan Srilangka &lt;br&gt;Di JEpang dan Cina &lt;br&gt;Di Korea dan Pilipina&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tuhan semakin banyak &lt;br&gt;Di Amerika dan Rusia &lt;br&gt;Di Eropa dan Asia &lt;br&gt;Di Afrika dan Australia &lt;br&gt;Di NATO dan PAlta Warsawa &lt;br&gt;Di PBB dan badan-badan dunia &lt;br&gt;Dimana-mana tuhan, ya Tuhan &lt;br&gt;Disini pun semua serba tuhan &lt;br&gt;Disini pun tuhan merajalela &lt;br&gt;Memenuhi desa dan kota &lt;br&gt;Mesjid dan gereja &lt;br&gt;Kuil dan pura &lt;br&gt;Menggagahi mimbar dan seminar &lt;br&gt;Kantor dan sanggar &lt;br&gt;Dewan dan pasar &lt;br&gt;Mendominasi lalu lintas &lt;br&gt;Orpol dan ormas &lt;br&gt;Swasta dan dinas&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ya Tuhan, di sana-sini semua serba tuhan &lt;br&gt;Pernyataanku pernyataan tuhan! &lt;br&gt;Kebijaksanaanku kebijaksanaan tuhan! &lt;br&gt;Keputusanku keputusan tuhan! &lt;br&gt;Pikiranku pikiran tuhan! &lt;br&gt;Pendapatku pendapat tuhan! &lt;br&gt;Tulisanku tulisan tuhan! &lt;br&gt;Usahaku usaha tuhan! &lt;br&gt;Khutbahku khutbah tuhan! &lt;br&gt;Fatwaku fatwa tuhan! &lt;br&gt;Lembagaku lembaga tuhan &lt;br&gt;Jama’ahku jamaah tuhan! &lt;br&gt;Keluargaku keluarga tuhan! &lt;br&gt;Puisiku puisi tuhan! &lt;br&gt;Kritikanku kritikan tuhan! &lt;br&gt;Darahku darah tuhan! &lt;br&gt;Akuku aku tuhan!&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ya Tuhan! &lt;br&gt;(BEGITU MUDAHNYA MEREKA MEMVONIS SESAMA MUSLIM DENGAN KATA2 SESAT, SEAKAN LEBIH TUHAN DARI TUHANNYA NABI MUHAMMAD SAW SENDIRI)&lt;br&gt;&lt;/p&gt;</description><dc:creator xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">zhellavie</dc:creator><pubDate>Sun, 06 Jul 2008 14:42:50 -0000</pubDate></item></channel></rss>